Sabtu, 19 Februari 2011

CHILD ABUSE

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Zaman sekarang ini dengan kesulitan ekonomi yang meningkat menyebabkan peningkatan pula pada masalah – masalah sosial misalnya: kriminalitas, kekerasan, pemerkosaan. Tidak terkecuali pada anak. Anak sering menjadi tempat pelampiasan emosi, sering terjadi kekerasan pada anak yang sering di sebut dengan istilah Child Abuse and Neglect.
Child abuse and neglect adalah perlakuan yang salah terhadap fisik dan emosi anak. Hal tersebut dapat menyebabkan trauma, gangguan tumbuh kembang dan lain – lain pada anak. Padahal anak adalah generasi muda penerus perjuanagan para pahlawan. Bagaimana bisa jika generasi tersebut mengalami gangguan oelh karena itu dibentuk komisi perlindungan anak agar anak dapat terbebas dari segala bentuk perlakuan yang salah. Kita harus memperhatikan anak secara intensif, memberi asah, asih, asuh yang benar sehingga tumbuh kembang menjadi optimal dan menghasilkan generasi yang berkualitas.





















TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Child Abuse ( kekerasan pada anak ) diartikan penganiayaan, penelantaran, kekerasan pada anak dan penyalahgunaan anak. Child Abuse and Neglect adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan anak dan kesehatannya.(dikutip dari Synder Etial, 1983)
B. Beberapa bentuk kekerasan pada anak
a. Kekerasan fisik
Segala bentuk perlakuan yang menyakitkan yang menimbulkan cedera fisik.
b. Kekerasan seksual
Segala bentuk perlakuan seksual terhadap anak dimana anak dalam keadaan tidak memahami, atau tidak mampu menolak yang ditandai dengan adanya kontak seksual antara anak dengan orang dewasa atau dengan anak lainnya yang mana bertujuan untuk memberikan kepuasan bagi orang terdekat.
c. Kekerasan emosional
Segala bentuk perlakuan pada anak yang menunjukkan kegagaln dalam menciptakan lingkungan yang mendukung untuk tumbuh kembang anak secara normal.
d. Penelantaran
Kegagalan dari orang tua dan lingkungan anak untuk menyediakan segala kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan semestinya.
C. Faktor predisposisi (yang berperan dalam pola penganiayaan)
1. Teori Biologis
a. Pengaruh neurofisiologis
Perubahan dalam sistem limbik otak dapat mempengaruhi perilaku agresif pada beberapa individu.
b. Pengaruh Biokimia
Macam – macam neurotramister, misalnya: epineprin, noreprin, dopomin dapat memainkan peranan dalam memudahkan dan menghambat impuls – impuls agresif.
c. Pengaruh genetika
Herediter sebagai komponen pada predisposisi untuk perilaku agresif, baik ikatan genetik langsung maupun karyotip geneti XXY telah diteliti sebagai kemungkinan.
d. Kelainan otak
Berbagai kelainan otak mencakup tumor dan penyakit – penyakit tertentu.
2. Teori psikologi
a. Teori psikoanalitik
Psikoanalitik telah membuat hipotea bahwa agresi kekerasan adalah ekspresi terbuka dari ketidakberdayaan dan harga diri rendah yang timbul bila kebutuhan – kebutuhan masa anak terhadap kepuasan dan keamanan tidak terpenuhi.
b. Teori pembelajaran
Individu – individu yang dianiays seperti anak – anak atau yang orang tuanya mendisiplinkan dengan hukuman fisik lebih mungkin untuk berperilaku kejam sebagai orang dewasa.
3. Teori sosiokultural
Pengaruh sosial dapat berperan pada kekerasan saat individu menyadari bahwa kebutuhan dan hasrat mereka tidak dapat terpenuhi melalui cara – cara yang lazim, dan mengusahakan perilaku – perilaku kejahatan dalam usaha untuk memperoleh akhir yang diharapkan.
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Data obyektif dan subyektif
1. Tanda – tanda penganiayaan fisik
a. Memar pada berbagai area tubuh.
b. Tanda – tanda gigitan, bilur – bilur pada kulit, luka bakar.
c. Fraktur, jaringan parut, cidera internal serius bahkan kerusakan otak.
2. Tanda – tanda pengabaian pada anak
a. Pakaian yang kotor tidak sesuai ukuran.
b. Hygiene buruk.
c. Selalu lapar dengan kemungkinan tanda – tanda malnutrisi.
3. Tanda – tanda penganiayaan seksual terhadap anak
a. Sering muntah
b. Kesulitan atau nyeri pada saat berjalan atau duduk.
c. Kemerahan atau gatal pada daerah genital
4. Tanda – tanda penganiayaan seksual pada orang dewasa
a. Nyeri kepala, lelah, gangguan pola tidur.
b. Nyeri abdomen, mual, muntah.
c. Rasa tidak berdaya yang sangat.
B. Pohon Masalah













C. Diagnosa keperawatan
1. RESIKO TINGGI TRAUMA berhubungan dengan PERILAKU KEKERASAN PADA ANAK
2. PERILAKU KEKERASAN PADA ANAK berhubungan dengan REGIMEN TERAPEUTIK KELUARGA IN EFEKTIF

D. Intervensi
1. RESIKO TINGGI TRAUMA berhubungan dengan PERILAKU KEKERASAN PADA ANAK
• Tujuan:
Penganiayaan tidak berkelanjutan
• Kriteria hasil:
Trauma berkurang
Anak kembali stabil
Intervensi:
• Pindahkan anak ke lingkungan yang aman
• Berikan perlindungan anak selama di Rumah Sakit
• Rujuk keluarga ke tempat sosial

2. PERILAKU KEKERASAN PADA ANAK berhubungan dengan REGIMEN TERAPEUTIK KELUARGA IN EFEKTIF
• Tujuan:
pasien akan mendemontrasikan perilaku yang konsisten dengan usia tumbuh dan kembangnya.
• Kriteria hasil:
pasien menerima perhatian segera untuk cidera fisiknya, mendemonstraikan suatu penurunan dalam perilaku agresif.
Intervensi:
• Lakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada anak.
• Adakan wawancara dengan orang tua atau orang dewasa yang menyertai anak.
• Menetakan hubungan saling percaya dengan seorang anak dengan menggunakan terapi beramain.
• Menentukan apakah cidera yang dialami dibenarkan untuk dilaporkan kepada yang berwenang.

E. Evaluasi
• Diharapkan tidak ada atau tidak terjadi trauma pada anak.
• Tidak terjadi cidera pada anak.
• Sediakan lingkungan yang aman.











DAFTAR PUSTAKA
1. Anna Budi Keliat, Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak, FIK UI, 1998.
2. Ennis Sharon Axton, Pediatric Nursing Care Plans, 2nd Edition, Pearson Education, New Jersey, 2003.
3. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak I, Jakarta, EGC 1999.
4. Whaley’s and Wong, Clinic Manual of Pediatric Nursing, 4th Edition, Mosby Company, 1996.
5. Sowden Betz Cicilia, Keperawatan Pediatric, Jakarta, EGC, 2002
6. http://www.ri.go.id/produk uu/isi/uu2002/uu22”02.htm
7. http://www.tempointeraktif.com
8. http://www.Balipost.com